Prediksi, Benarkah HTI Akan Bangkit Kembali Di Indonesia?

Beberapa minggu ini, kita, masyarakat disuguhkan peristiwa yang secara cepat memenuhi beranda media sosial, baik Facebook, Twitter, maupun media informasi lainnya.

HTI Akan Bangkit Kembali

Salah satu peristiwa yang menyita perhatian adalah berkumpulnya sekelompok umat Islam yang mengatasnamakan diri "Aksi Memberla Tauhid" di Jakarta [26 Oktober 2018].

Aksi ini diakui sebagai buntut kekecewaan berlebihan sebagian Umat Islam atas peristiwa pembakaran bendera tauhid, yang diduga dilakukan oleh sekelompok anggota Banser.

Kejadikan Pembakaran Bendera Tauhid tersebut memang sempat menjadi trending topik disejumlah media infomasi, baik cetak maupun online. Pasalnya, aksi pembakaran itu dilakukan saat Acara Hari Santri Nasional di Bogor.

Pihak Banser sendiri meyakni, bahwa bawahannya diprovokasi oleh seseorang, agar acara tersebut kacau. Namun meski demikian, secara terbuka meminta maaf atas kejadian ini, dan pihaknya tetap mengklaim bahwa bendera yang dibakar adalah "Bendera HTI".

Namun, sebagian umat Islam menilai, bahwa bendera yang mereka bakar, jelas-jelas bendera yang bertuliskan kalimat Tauhid, bukan bendera Ormas, namun bendera umat Islam. 

Perdebatan prihal status bendera tersebut diliput oleh beberapa media informasi, disatu sisi, Banser yang meyakini itu bendera HTI [Sumber CNN Indonesia], adapula yang tidak terima, dan mengklaim itu adalah bendera Tauhid dan bendera Umat Islam.

Sementara itu HTI sendiri mengklaim, bahwa bendera tersebut bukan bendera HTI, sebab pihaknya tidak memiliki bendera [Sumber : Tirto]

Baca Juga : Tak Banyak Yang Tau, Ternyata Ini Alasan HTI Dibubarkan

Hal tersebut juga pernah diungkapkan oleh Ismail Yusanto, Eks Pengurus HTI, seperti yang pernah diwawancari oleh Aimar dari KompasTV

HTI Akan Bangkit Kembali
Aimar, Wawancara Eksklusif di Kompas TV

Dus, kini kejadian itu telah diselesaikan oleh pihak kepolisian, baik pembakar bendera maupun orang yang diduga menyebarkan bendera saat HSN berlangsung, semuanya telah diproses.

Tapi, sepertinya tindakan yang dilakukan oleh aparat hukum, tidak memuaskan sebagian masyarakat. Mereka masih merasa kecewa atas kejadian tersebut, dan berharap tidak ada kejadian serupa dimasa yang akan datang.

Mereka [Sebagian Masyarakat], selanjutnya menggelar "Aksi Bela Tauhid" di Jakarta, yang dihadiri oleh sejumlah masa yang datang dari beberapa daerah di Indonesia.

Benarkah Di Aksi Bela Tauhid, Ada Indikasi Politik Dan Kebangkitan HTI?

Aksi yang berlangsung sejak sebelum subuh tanggal 26 Oktober 2018 ini, memang tak sebesar aksi Bela al-Quran. Namun, bisa dipastikan, massa yang mengikuti acara ini adalah sama.

Artinya, sama seperti seperti halnya saat aksi bela al-Quran, dan sama-sama menyuarakan kekecewaan yang mendalam terhadap pemerintah, serta bertujuan membangun spirit keagamaan.

Namun yang perlu diperhatikan adalah, adanya indikasi "Kepentingan Politik" yang sebenarnya telah dilarang oleh aparat hukum dan KPU saat itu.

Selain indikasi politik, muncul pula dugaan kuat, ada salah satu ormas yang memanfaatkan atau bahkan ikut memobilisasi massa untuk ikut serta dalam Aksi tersebut.

Jika diamati prosesi acara tersebut, sepertinya memang ada niatan dari sejumlah peserta [yang disebut dengan mujahid dan mujahidah] yang memanfaatkan momen ini. Hal tersebut bisa dilihat beberapa fakta berikut:
1. Waktu Pelaksanaan Aski Bela Tauhid, diselenggarakan pada masa kampanye Capres dan Cawapres [Masa Kampanye, 23 September 2018 sampai 13 April 2019]
2. Ada Eks Pengurus HTI yang bahkan ikut berorasi saat acara Bela Tauhid [Sumber : CNN Indonesia]
3. Ada teriakan 2019 Ganti Presidan [sumber BBC Indonesia]

Dari ketiga fakta ini, jika dijelaskan, mungkin bisa demikian :
Kegiatan Aksi Bela Tauhid yang notabene merupakan acara dimana berkumpulnya sebagian umat Islam, di tempat strategis yakni di Ibu Kota Jakarta, sangat mungkin berpotensi sebagai media penyampaian aspirasi.

Salah satu orator yang hadir adalah pentolan dari pimpinan ormas terlarang di Indonesia [HTI], yaitu Ismail Yusanto.

Sebagai salah satu media aspirasi yang strategis, Dimana salah satu aspirasi adalah ajakan untuk pergantian presiden di tahun 2019, dengan adanya teriakan 2019 Ganti Presiden, mengindikasikan adanya muatan politik yang berbungkus gerakan.

Baca Juga : Indonesia Telat, Ini Daftar Negara-negara Yang Menolak Ide Hizbut Tahrir

Disisi lain, tampilnya salah satu pentolan pengurus HTI, yang notabene salah satu orang yang tentunya tidak setuju ormasnya dibubarkan, menjadi indikasi, adanya harapan, disaat nantinya dukungan mereka terpilih jadi presiden, maka Ormasnya juga akan kembali disahkan.

Ini hanya sebuah analisa dan prediksi, semuanya tentu kita harus melihat perkembangan fakta-fakta politik yang berkembang.

Kesimpulan

Dari ulasan diatas, maka bisa disimpulkan bahwa, gerakan yang "Aksi Bela Tauhid" yang dilaksanakan pada tanggal 26 Oktober 2019 [masuk dalam masa kampanye] disinyalir memiliki muatan politik, sebab adanya teriakan 2019 Ganti Presiden.

Disinyalir pula, salah satu Ormas yang belum lama ini dilarang di Indonesia, memanfaatkan momen tersebut, dengan harapan Ormasnya kembali disahkan, saat dukungan mereka terpilih memenangkan dalam kontestasi politik.


Tambahan prediksi, apa jadinya jika nantinya, dukungan mereka menang dalam Pilpres, namun ormas HTI tetap tidak disahkan / dilegalkan? 

Akankah mereka kembali mencari alternatif aksi sepadan untuk meloloskan ambisinya? ataukah mereka akan berubah nama, agar tetap eksis menjalankan dogma khoilafah di bumi pertiwi? Wallahu A'lam.

Info Menarik Lainnya:

Previous
Next Post »
Facebook comments

Anda Mendapatkan Manfaat Dari Informasi Galeri Kitab Kuning? Tulis Komentar dengan Sopan, dan Tanpa memberi Link Aktif atau Non Aktif
Jangan Pakai Bahasa Yang Negative
Mohon maaf jika balasan kami telat, dan sesegera mungkin akan kami tanggapi.

Hormat Kami
Admin Galeri Kitab Kuning ConversionConversion EmoticonEmoticon

Ingin Langganan?

Kami akan kirim informasi terkini melalui email anda, secara gratis!

Cek Inbox Email untuk Konfirmasi