Download Kitab versi PDF, dan Informasi Islam

Biografi Syaikh Yasin al-Fadani, Sosok Ulama Asal Indonesia Yang Mendunia

Hadhratusy Syaikh Abu Al-Faydh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani, yang dicapainya melalui keistiqamahan menekuni Ilmu beserta sanadnya hingga di ujung usia.

Biografi Syaikh Yasin al-Fadani

Syaikh Yasin Al-Fadani adalah seorang alim kaliber dunia yang memiliki sumbangsih melimpah bagi keilmuan Islam, khususnya dalam upaya melestarikan tradisi pakar hadits dalam berburu sanad ‘ali (sanad tertinggi), hingga beliau dijuluki “Musnid Ad-Dunya” (Pakar Sanad Sejagat). Syaikh Yasin Al-Fadani berhasil menjadi muara sanad hadits dan disiplin ilmu lainnya pada masa itu.

Pada tahapan berikutnya, eksplorasi atas keilmuannya tampak pada sekian karyanya yang diduga mencapai ratusan buah.

Tentang karya-karya ini, Al-‘Allamah Sayyid Saggaf bin Muhamad As-Saggaf, seorang tokoh ulama Hadhramaut, memuji Al-Fadani dengan sebutan “Suyuthiyyu zamanih” (Imam Suyuthi di masanya), lantaran senarai karyanya yang demikian banyak.

Sejumlah murid dan peneliti pun berusaha menginventarisir, mengkodifikasi, dan menerbitkan karya-karya tersebut.

Kabarnya hingga kini baru terhitung sebanyak 97 kitab, di antaranya sembilan kitab tentang ilmu hadits, 25 kitab tentang ilmu fiqih dan ushul fiqih, 36 buku tentang ilmu falak, dan sisanya tentang cabang ilmu-ilmu yang lain.

Sebagai langkah membangun tradisi jaringan keilmuan dengan mata rantai sanad yang bermuara pada Syaikh Yasin, beberapa karyanya tersebut pun tersebar dan menjadi rujukan lembaga-lembaga pendidikan Islam, seperti pondok pesantren, madrasah, majelis ilmu, baik di Timur Tengah maupun di Asia Tenggara.

Agaknya pula, sebagaimana diakui dan dipuji kalangan ulama yang mengetahui kadar keilmuannya, faktor susunan bahasa yang tinggi dan sistematis serta isinya yang padat menjadikan literatur karya Syaikh Yasin banyak digunakan oleh para ulama dan pelajar sebagai sumber referensi.

Syaikh Yasin Al-Fadani menyandang gelar “Musnid Ad-Dunya” karena ia dipandang memiliki sanad paling banyak di dunia pada masanya.

Menurut beberapa kawan sesama ulama masa itu, ia adalah seorang muhaddits sekaligus musnid, di samping seorang faqih dan ushuli. Terbukti dengan syarah-nya terhadap kitab Sunan Abi Dawud, sebanyak 20 jilid.

Dengan pertimbangan Sunan Abi Dawud memuat ahadits al-ahkam (hadits-hadits hukum). Tentunya untuk mengomentari Sunan Abi Dawud butuh kepakaran tertentu dalam banyak bidang ilmu.

Biografi Syaikh Yasin al-Fadani

Imam Ar-Rafi’i berpendapat, seorang ulama bisa jadi mujtahid cukup dengan mendalami Sunan Abu Dawud. Meski kemudian pendapat ini dibantah oleh An-Nawawi, karena hadits- hadits ahkam (hukum-hukum) tak hanya ada di Sunan Abi Dawud.

Namun khilaf kedua tokoh ini bukan poinnya, melainkan ini menun­ jukkan bahwa Sunan Abi Dawud memiliki kedudukan sangat tinggi dalam bidang hadits al-ahkam.

Dari sini, jika bukan seorang faqih besar, Al-Fadani tak mungkin mampu mensyarahnya. Sayangnya Syarh Sunan Abu Dawud yang masih dalam bentuk manuskrip, tak kunjung hadir di toko-toko buku, disebabkan beberapa jilid karya yang tersusun raib saat pindah rumah.

Untuk mengenal lebih dekat sosok Al-Fadani, tak cukup hanya mengacu pada kepakaran haditsnya, tapi juga pada isnad.

Karena, dari 100 bukunya, 60 di antaranya berkaitan dengan isnad. Syaikh Ali Jum’ah, mufti Mesir saat ini, ketika mentahqiq kitab Jauharah at-Tauhid, mendapati dan menyebutkan sanad yang bersambung pada Syaikh Yasin Al-Fadani.

Gelar Musnid Ad-Dunya juga tak didapat Syaikh Yasin Al-Fadani hanya karena banyaknya guru, yang mencapai lebih dari 700 orang, tapi juga, bahkan lebih, pada kepakarannya dalam bidang yang ia geluti.

Merujuk pada Syaikh Mahmud Said Mamduh, salah seorang murid beliau, Al-Fadani kerap kali menerima permintaan fatwa. Itu artinya, tokoh ini tak hanya pakar dalam isnad, tapi juga ilmu syari’at lainnya.

Masih menurut Syaikh Mamduh, Al-Fadani memang sosok ulama yang sangat tawadhu’. Karyanya mengenai ushul fiqh, Syarh al-Luma’, sebanyak dua jilid yang tebal, terpaksa tak jadi dicetak, gara-gara gurunya, Syaikh Yahya Aman, sudah terlebih dahulu mengirim naskah yang sama ke percetakan.

Tampaknya ia berkaca pada peristiwa sebelumnya, saat mencetak Hasyiyah at-Taysir, karyanya, yang ternyata membuat karya serupa milik Syaikh Yahya Aman kurang dikenal.

Salah satu kebiasaan Syaikh Yasin, ia hanya mau menulis ihwal sesuatu yang tidak atau jarang ditulis oleh rekan-rekannya.

Hasil karyanya semuanya dalam bahasa Arab. Susunan bahasanya bagus, sistematikanya rapi, dan isinya padat.

Pujian pun berdatangan dari Al-‘Allamah As- Sayyid Alawi bin Abbas Al-Maliki, Syaikh Mahmud Said Mamduh Al-Mishri, dan Al-Habib Ali bin Syaikh Bilfaqih Seiwun Hadhramaut.

Di antara karya-karyanya adalah :
  • Ad-Durr al- Mandhud fi Syarh Sunan Abi Dawud
  • Fathal-‘Allam Syarh Bulugh al-Maram
  • Jam’u al-Jawami’
  • Bulghah al-Musytaq fi ‘Ilm al-Isytiqaq
  • Idha-ah an-Nur al-Lami‘ Syarh al-Kawkab as-Sathi‘
  • Hasyiyah ‘ala al-Asybah wa an-Nazhair
  • Bughyah al-Musytaq Syarh al- Luma‘ Abi Ishaq
  • Tatmim ad-Dukhul Ta’liqat ‘ala Madkhal al-Wushul ila ‘Ilm al-Ushul
  • Ad-Durr an-Nadhid Hasyiyah ‘ala Kitab at-Tamhid lil-Asnawi
  • Nayl al-Ma’mul Hasyiyah ‘ala Lubb al-Ushul wa syarhih Ghayah al-Wushul
  • Manhal al-Ifadah, Al-Fawaid al-Janiyyah Hasyiyah ‘ala al-Qawaid al-Fiqhiyyah
  • Janiyy ats-Tsamar syarh Manzhumah Manazil al-Qamar
  • Mukhtashar al-Muhadzdzab fi Istikhraj al-Awqat wa al-Qabilah bi ar-Rub’i al-Mujib
  • Al-Mawahib al-Jazilah syarh Tsamrah al-Wasilah fi al- Falak
  • Tastnif al-Sam’i Mukhtashar fi ‘Ilm al-Wadh’i
  • Husn ash-Shiyaghah Syarh Kitab Durus al-Balaghah
  • Risalah fi al-Mantiq
  • Ithaf al-Khallan Tawdhih 
  • Tuhfah al-Ikhwan fi ‘Ilm al-Bayan
  •  Ar-Risalah al-Bayaniyyah ‘ala Thariqah as-Sual wa al-Jawab.

Salah satu kitab karyanya, Al-Fawaid al-Janiyyah hasyiyah Al-Mawahib As-Saniyyah syarah Al-Fara’idh Al-Bahiyah Nazhm Qawa’id al-Fiqhiyyah fi al-Asybah wa an-Nazha-ir ‘ala al-Madzhab asy-Syafi’iyyah, adalah sebuah kitab hasyiyah (kitab yang berisi penjelasan atau komentar terhadap kitab syarah) mengenai qawa`id fiqh (kaidah-kaidah fiqih) yang berjudul Al-Asybah wa An-Nazha-ir ‘ala al-Madzhab asy-Sya­ fi’iyyah, karya Imam As-Suyuthi.

Mengenai kitab ini, Syaikh Zakariyya Abdullah Bila berkata, “Waktu mengajar Qawa’idul Fiqh di Madrasah Shaulatiyyah Makkah, saya sering kali mendapat kesulitan yang memaksa saya membolak balik kitab-kitab yang besar untuk memecahkan kesulitan tersebut.

Namun setelah terbit kitab Al-Fawa’id al-Janiyyah, karya Syaikh Yasin, menjadi mudahlah semua itu, dan ringanlah beban dalam mengajar.”

Kitab tersebut, yang disusun secara sistematis, sarat dengan penjelasan kaidah-kaidah fiqih, dan mudah dipahami, hingga kini menjadi materi silabus mata kuliah Ushul Fiqh di Fakultas Syari’ah Al-Azhar Kairo.

Karya Bidang Sanad
Sebagai seorang yang digelari pemilik sanad terbanyak di dunia, Syaikh Yasin juga menulis di bidang periwayatan ini.

Beberapa karyanya yang dapat disebutkan seperti :
  • Madmah al-Wujdan fi Asanid asy-Syaikh Umar Hamdan
  • Ithaf al-Ikhwan bi Ikhtishar Madmah al-Wujdan
  • Tanwir al-Bashirah bi Thuruq al-Isnad asy-Syahirah
  • Faydh ar-Rahman fi Tarjamah wa Asanid asy-Syaikh Khalifah bin Hamd an-Nabhan
  • Al-Qawl al-Jamil bi Ijazah as-Sayyid Ibrahim Bin Aqil
  • Faydh al-Muhaimin fi Tarjamah wa Asanid as-Sayyid Muhsin
  • Al-Maslak al-Jaliyy fi Tarjamah wa Asanid asy-Syaikh Muhammad ‘Aliyy
  • Asanid Ahmad bin Hajar al-Haitami al-Makki
  • Al-Irsyadat fi Asanid Kutub an-Nahwiyyah wa ash-Sharfiyyah
  • Al-‘Ujalah fi al-Ahadits al-Musalsalah
  • Asma al-Ghayah fi Asanid asy-Syaikh Ibrahim al-Hazami fi al-Qira`ah
  • Asanid al-Kutub al-Haditsiyyah as-Sab’ah
  • Al-‘Iqd al-Farid min Jawahir al-Asanid, Ithaf
  • al-Bararah bi Ahadits al-Kutub al-Haditsiyyah
  • al-‘Asyrah, Ithaf al-Mustafid bi Nur al-Asanid
  • Qurrah al-‘Ayn fi Asanid A’lam al-Haramayn
  • Ithaf uli al-Himam al-‘Aliyyah bi al-Kalam ‘ala al-Hadits al-Musalsal bi al-Awwaliyyah
  • Al-Waraqat fi Majmu’ah al-Musalsalat wa al-Awa’il wa Asanid al-‘Aliyyah
  • Ad-Durr al-Farid min Durar al-Asanid, Bughyah al-Murid min ‘Ulum al-Asanid
  • Al-Muqtathaf min Ithaf al-Akabir bi Marwiyyat ‘Abd al-Qadir ash-Shadiqi al-Makki
  • Ikhtishar Riyadh Ahl al-Jannah min Atsar Ahl as-Sunnah li ‘Abd al-Baqi al-Ba’li al-Hanbali
  • Arba’un Haditsan min Arba’in Kitaban ‘an Arba’in Syaikhan
  • Al-Arba’un al-Buldaniyyah Arba’un Haditsan ‘an Arba’ina Syaikhan ‘an Arba’in Baladan
  • ‘Arbaun Haditsan Musalsal bi an-Nuhad ila al-Jalal as-Suyuthi
  • Al-Salasil al-Mukhtarah bi Ijazah al-Mu’arrikh as-Sayyid Muhammad bin Muhammad Ziyarah
  • Fath ar-Rabb al-Majid fima li Asy-yakhiy min Fara’id al-Ijazah wa al-Asanid
  • Silsilah al-Wushlah Majmu’ah Mukhtarah min al-Ahadits al-Musalsalah
  • Al-Faydh al-Rahmani bi Ijazati Samahah al-‘Allamah al-Kabir Muhammad Taqi al-‘Ustmani
  • Nihayah al-Mathlab fi ‘Ulum al-Isnad wa al-Adab
  • Ad-Durr an-Nadhir wa ar-Rawdh an-Nazhir fi Majmu’ al-Ijazah bi Tsabat al-Amir
  • Al-‘Ujalah al-Makkiyyah wa an-Nafhah al-Makiyyah
  • Al-Waraqat ‘ala al-Jawahir ats-Tsamin fi al-Arba’in Haditsan min Ahadits Sayyid al-Mursalin
  • Ta’liqat ‘ala Kifayah al-Mustafid li asy-Syaikh Mahfuzh at-Turmusi
  • Tahqiq al-Jami’ al-Hawi fi Marwiyyat al-Syarqawi

Karya-karyanya yang mencapai ratusan buah tersebut sebahagian besar belum dicetak dandiperbanyak.

Oleh karena itu, pemerintah Indonesia melalui Departemen Agama berencana melakukan pencetakan bila mendapat izin dari pihak keluarga, murid- murid, dan sumber-sumber manuskrip karya
Syaikh Yasin yang lain.

Hal itu dikatakan oleh Dr. Muhammad Maftuh Basyuni, saat menjabat menteri agama Kabinet Indonesia Bersatu Jilid Satu, yang sekaligus salah satu murid Syaikh Yasin, dalam sebuah kesempatan haul Syaikh Yasin dan Syaikh Abdul Hamid Ad-Dari di kawasan Prapanca, Jakarta, beberapa tahun yang lalu.

Pujian atas Akhlaq dan Keilmuannya atas berbagai kiprahnya yang telah malang-melintang dari Timur hingga Barat, para ulama sezamannya dan sesudahnya memuji sosoknya, yang menakjubkan.

Seorang ahli hadits, Sayyid Abdul Aziz Al-Ghumari, yang tak lain adalah salah seorang guru utamanya, juga memuji dan menjuluki Syaikh Yasin sebagai kebanggaan ulama Haramayn dan sebagai “Muhaddits Terkemuka”.

Begitu pula Dr. Abdul Wahhab bin Abu Sulaiman, seorang dosen Dirasatul ‘Ulya Universitas Ummul Qura Madinah, yang juga tokoh Wahabi.

Di dalam kitabnya yang berjudul Madinah Al-Jawahir Ats-Tsaminah ia menyebut Syaikh Yasin, mudir (direktur) Madrasah Darul ‘Ulum Ad-Diniyyah, sebagai muhaddits, faqih, dan salah satu ulama besar Masjid Al-Haram yang patut diperhitungkan.

Dalam surat kabar Al-Bilad edisi Jum’at 24 Dzulqa’dah 1379H/19 Mei 1960 M, Syaikh Umar Abdul Jabbar berkata, “… Bahkan yang terbesar dari amal bakti Syaikh Yasin adalah membuka madrasah putri pada tahun 1362 H (1943 M).

Madrasah ini merupakan madrasah untuk kaum perempuan yang pertama kali ada di lingkungan Kerajaan Arab Saudi.

Dalam perjalanannya selalu ada rintangan, namun beliau dapat mengatasinya dengan penuh kesabaran dan ketabahan….” Secara khusus, As-Sayyid Abdurrahman bin Muhammad bin Abdurrahman Al-Ahdal, mufti Yaman, menyusun sebuah syair panjang yang memuji Syaikh Yasin Al-Fadani.

Di antara bait syair itu berbunyi:
Anta fil ‘ilmi wal ma’ani faridu # wa bi aqdil fakhari al-wahidu
Engkau tak ada taranya dalam ilmu dan hakikat Dengan membangun kejayaan, engkaulah satu-satunya yang jaya.

Begitu pula Dr. Yusuf Abdurrazzaq, dosen Fakultas Ushuluddin Universitas Al-Azhar Kairo. Ia juga memuji Syaikh Yasin dengan suatu syair yang salah satu baitnya berbunyi:
Anta fina baqiyyatun min kirami # la tara al-aynu mitslahum insana
Engkau di tengah kami orang terpilih dari orang terhormat tak pernah mata melihat manusia seperti
mereka.

Begitu banyak ulama kaliber dunia yang menyanjung kedalaman ilmunya dan keluhuran akhlaqnya, yang tak mungkin disebutkan di sini.

Demikianlah, Allah SWT telah memilih dan menempatkan Abu Al-Faydh Syaikh Muhammad Yasin bin Muhammad Isa Al-Fadani Al-Makki dalam barisan ulama terkemuka, yang mengambil warisan dari Sayyidina Muhammad SAW dalam ilmu, amal, dan adab.

Nama lengkap beliau adalah Abu al-Faydl ‘Alam al-Din Muhammad Yasin ibn Muhammad ‘Isa al-Fadani. Ulama keturunan Padang. Mufti (pemberi fatwa) mazhab Syafi’i di Mekah, dan penulis beberapa literature khazanaha keislaman.

Lahir pada tahun 1335 H./ 1915 M. di Makkah. Menimba ilmu, mula- mula dari ayahnya sendiri; Syaikh ‘Isa al-Fadani, lalu kepada bapa saudaranya, Syaikh Mahmud al-Fadani.

Peta keilmuan Negri Mekkah pada abad ke 19 – 20 M bahkan dua abad sebelumnya menunjukkan tak hanya didominasi oleh ulama asli Arab atau ulama-ulama Timur Tengah.

Ulama-ulama dari luar timur Tengah bahkan seperti dari Asia Tenggara banyak bermunculan menjadi bintang keilmuan di Makkah.

Banyak ulama dari Indonesia, Thailand Selatan –sebagian nya juga merupakan keturunan Arab)- menjadi ulama terkemuka di Makkah, sebut saja Syeikh Muhammad Nawawi al-Bantany, Syeiklh Mahfudh Termas, Syeikh Ahmad Khatib Sambas, Syeikh Ahmad Khatib Minangkabau, Syeikh Mukhtar `Atharid, Syeikh Daud al- Fatany, Sayyid Muhsin al-Musawa dll.

Diantara nama-nama ulama Indonesia abad 20 yang namanya dicatat dengan tinta emas dalam daftar ulama terkemuka Makkah adalah Syeikh Muhammad Yasin al-Fadany.

Nama ini sudah tidak asing lagi bagi para pecinta ilmu baik di Indonesia maupun di manca Negara. Beliau lahir di Makkah pada hari selasa 27 Sya`ban tahun 1335 H/17 Juni 1917 M.

Menurut riwayat lain pada tahun 1337 H/1919 M. beliau lahir dari darah keluarga pecinta ilmu agama, sejak kecil beliau belajar kepada ayah beliau, Syeikh Muhammad Isa dan dilanjutkan kepada paman beliau, Syeikh Mahmud. Kepada keduanya, beliau belajar dan menghafal beberapa matan kitab dalam bidang ilmu fiqh, tauhid, faraidh dan mustalah hadits.

Tahun 1346 H/1928 M beliau melanjutkan pendidikan ke Madrasah Ash-Shaulatiyah Al-Hindiyah , beliau menimba ilmu disini selama ± 7 tahun.

Guru-guru beliau selama di Madrasah Ash-Shaulatiyah adalah Syeikh Mukhtar Usman Makhdum, Sayyid Hasan Al-Masysyath dan Sayyid Muhsin bin Ali Al-Musawa (seorang ulama Makkah yang lahir di Palembang tahun 1323 H/1905 M).

Pada tahun 1353 H/1935, beliau pindah ke Madrasah Darul Ulum Ad-Diniyah yang didirikan oleh Sayyid Muhsin bin Ali Al-Musawa bersama beberapa pemuka masyarakat Nusantara yang berada di Makkah kala itu.

Beliau adalah angakatan pertama di Darul Ulum yang kemudian menjadi pengurus Darul Ulum.

Kepindahan beliau ke Darul Ulum tidak lepas dari sebuah peristiwa menarik yaitu ketika salah seorang guru di Madarsah Shaulatiyah merobek surat kabar Melayu yang dianggap melecehkan martabat melayu, sehingga memacu semangat beliau dan beberapa anak-anak jawy (sebutan untuk pelajar Nusantara) untuk bangkit memberikan perlawanan dengan cara pindah dan
memajukan Madrasah Darul Ulum.

Sekitar 120 santri yang berasal dari Nusantara di Madrasah Shaulatiyah pindah ke Madrasah Darul Ulum. Situasi seumpama ini hampir tidak pernah berlaku di madrasah-madrasah yang baru dibuka sebelumnya sehingga Darul-‘Ulum mendapat murid yang begitu ramai.

Akhirnya gelombang siswa yang masuk ke Darul Ulum meningkat pada tahun berikutnya.

Selain belajar di Darul Ulum, beliau juga aktif mengikuti pengajian-pengajian di Masjidil
Haram.

Rasa haus beliau akan ilmu membuat beliau mendatangi kediaman para syaikh terkemuka untuk belajar di tempat-tempat mereka seperti di Thaif, Makkah, Madinah, Riyadh, maupun kota-kota lainnya.

Bahkan beliau sempat ke luar Arab Saudi seperti Yaman, Mesir, Syiria, Kuwait dan negeri- negeri lainnya.

Sejak awal masa belajarnya, beliau telah dikenal sebagai seorang pelajar yang memiliki kecerdasan yang luar biasa, sehingga mampu mengungguli teman-temannya.

Tidak mengherankan kemudian banyak teman- teman beliau yang akhirnya malah belajar kepada beliau.

Kecerdasan dan juga akhlak beliau yang luhur yang membuat gurunya kagum terhadap beliau.

Perhatian beliau terhadap ilmu Hadits dan gelar Musnid Ad-Dunya.
Sejak muda beliau sangat gemar kepada ilmu hadits. Ia selalu mengikuti Syeikh Umar Hamdan Al Mahrasi dan membaca kitab kepadanya.

Selain itu juga kepada Syeikh Muhammad bin Ali bin Husain Al-Maliky. Beliau mempelajari fiqh Syafii kepada Syeikh Umar Bajunaid, mufti Mazhab Syafii ketika itu, Syeikh Said bin Muhammad Al Yamany, serta kepada Hasan Al Yamany.

Ilmu ushul beliau pelajari kepada Sayyid Muhsin bin Ali Al Musawa. Ilmu sejarah beliau pelajari dari seorang ahli sejarah Syeikh Abdullah Muhammad Ghazi Al Makky.

Beliau juga berguru kepada ahli bahasa Syeikh Ibrahim bin Daud Al-Fathany Al Makky, serta kepada Sayyid Alawy bin Abbas Al-Maliky, ayahanda Abuya Prof. DR. Sayyid Muhammad Al Maliky untuk ilmu lainnya.

Beliau juga menghadiri majlis ulama terkemuka lain seperti Sayyid Muhammad Amin Al Kutby al-Hasani, Al Allamah Khalifah bin Hamd An Nabhany Al Makky, Syeikh Hasan al-Masysyat, Syeikh Ahmad al-Mukhallalati, Syeikh Muhammad al-‘Arabi al-Tabbani, Syeikh Muhammad Nur Sayf, dan ulama-ulama berpengaruh yang lain.

Guru Syekh yasin al-Fadany dari Luar Mekah

Diantara guru-guru beliau dari luar Makkah antara lain:
  • Syeikh Ahmad bin Rafi‘al-Tahtawi, 
  • Syeikh Muhammad Ibrahim al-Samaluti
  • Syeikh Muhammad Bakhit al-Muti‘i,
  • Syeikh Muhammad Hasanayn Makhluf
  • Syeikh Muhammad al-Hafiz al-Tijani
  • Syeikh Muhammad al-Khidr Husayn
  • Syeikh Mahmud bin Muhammad al-Dumi
  • Syeikh Muhammad Anwar Shah al-Kasymiri
  • Syeikh Asyraf ‘Ali al-Tahanawi
  • Syeikh Mufti Syafi‘ al-Dibandi
  • Syeikh Ahmad al-Siddiq al-Ghumari
  • Syeikh ‘Abdullah al-Siddiq al-Ghumari
  • Syeikh ‘Abd al-Hayy al-Kattani

Disamping banyak menghadiri majelis para tokoh besar, Syeikh Yasin pun dikenal sebagai ulama yang sangat sering meminta ijazah kepada para tokoh ulama yang sangat banyak jumlahnya.

Itulah yang membuat beliau memiliki sanad yang sangat luar biasa banyaknya dalam berbagai disiplin ilmu.

Tinggalnya beliau di Tanah Suci Makkah memudahkan beliau bertemu dengan banyaki ulama Islam, baik dari Tanah Suci sendiri maupun dari berbagai pelosok dunia yang datang ke Tanah Suci, seperti Syria, Libanon, Palestina, Yaman, Mesir, Maghribi, Iraq, Pakistan, Rusia, India, Indonesia dan Malaysia, sehingga terkumpullah disisi beliau berbagai macam sanad periwayatan ilmu dan hadis.

Sehingga Sepanjang perlajanan studynya, beliau berguru lebih dari 700 orang guru yang beliau catat dalam berbagai karya literaturnya yang berkaitan dengan ilmu sanad.

Ini merupakan satu jumlah yang memang sukar ditandingi apalagi untuk zaman ini. Antara guru yang paling kerap didampinginya dalam usaha mendapatkan ilmu, makrifah dan pembentukan dirinya ialah:
  • Sayyid Alawi bin Abbas al-Maliki
  • Syeikh Muhammad Ali bin Husain al-Maliki
  • Al-'Allamah Syeikh Hasan bin Muhammad al-Masysyat
  • Muhaddith al-Haramain Syeikh Umar Hamdan al-Mahrisi.
0 Komentar untuk "Biografi Syaikh Yasin al-Fadani, Sosok Ulama Asal Indonesia Yang Mendunia"

Anda Mendapatkan Manfaat Dari Informasi Galeri Kitab Kuning? Tulis Komentar dengan Sopan, dan Tanpa memberi Link Aktif atau Non Aktif
Jangan Pakai Bahasa Yang Negative
Mohon maaf jika balasan kami telat, dan sesegera mungkin akan kami tanggapi.

Hormat Kami
Admin Galeri Kitab Kuning

Back To Top