Kondisi Muslim Afganistan Menjalankan Ibadah Puasa Ditengah Pandemi Covid-19 -->
Cari Berita

Kondisi Muslim Afganistan Menjalankan Ibadah Puasa Ditengah Pandemi Covid-19

Admin Galeri Islam
Minggu, 10 Mei 2020

Galeri Kitab | Afganistan,  Setelah warga Afgansitan tertahan selama empat dekade oleh peperang namun kini mereka mengatakan, mereka justru akan melalui sebuah kondisi yang belum pernah dialami sebelumnya, yakni Ramadhan-dengan sekala sumber daya yang terbatas karena COVID-19.

Muslim Afganistan Menjalankan Ibadah Puasa Ditengah Pandemi Covid-19

"Ini adalah bulan puasa yang belum pernah dilihat atau dialami sebelumnya dalam sejarah Afghanistan dan mungkin dalam sejarah Islam secara keseluruhan," Rahim Shah, pria berumur 50 tahun, dan pekerja i dealer mobil, ujarnya pada Arab News.

Dia mengatakan bahwa sebelum wabah, ada "setidaknya rasa kebahagiaan yang Ramadhan akan memungkinkan kita untuk berpuasa dalam suasana damai," terutama karena pengurangan kekerasan oleh kelompok militan  bersenjata.

"Sekarang, hal tampak jauh lebih suram daripada yang mereka lakukan di masa lalu. Orang tidak bisa lagi bekerja untuk mata pencaharian seperti yang diharapkan untuk memastikan tindakan karantina yang ketat, "katanya.

Hal yang sama juga dikatakan beberapa warga Afghanistan yang mengatakan bahwa wabah ini telah membubarkan suasana sukacita di bulan suci.
"Selama perang saudara dan sebelum itu, dalam semua situasi lain perang, Masjid akan terbuka sepanjang waktu, dan orang pergi untuk individu dan jamaah doa siang dan malam. Namun Ramadhan ini sangat berbeda karena virus koroner, "ujar Rahmatullah, seorang pedagang yang berusia 55 tahun.

Pengaruh Pandemi Corona
Di beberapa kota besar, wabah telah diruntuhkan pekerja upah harian untuk mencari nafkah, di samping menciptakan kelangkaan obat yang dipicu oleh mahalnya penerbangan internasional-mengakibatkan lonjakan harga obat dan beberapa layanan publik yang cukup penting.

Pandemi ini juga telah menghambat perjanjian yang banyak ditunggu-tunggu khususnya berkenaan dengan kedamaian Afghanistan yang sempat ditandatangani antara Taliban dan Amerika Serikat pada akhir Februari tahun ini.

Pihak otoritas setempat juga telah mendesak agar masyarakat menahan diri dan tidak melaksanakan Taraweh (atau salat Idul Fitri) di masjid, beberapa di antaranya telah ditutup masjid sebagai bagian dari tindakan pencegahan.

Sementara ini, dilaporkan sedikit kematian di Afghanistan dibandingkan dengan bagian lain di dunia, Kementerian kesehatan memprediksi bahwa di bulan-bulan yang akan datang mungkin saja akan terjadi kondisi yang serius bagi pemerintahan dan bangsa Afganistan.

Dalam sebuah wawancara dengan saluran TV lokal, Wakil Presiden Afghanistan Amrullah saleh memperingatkan bahwa sebanyak 300.000 orang diprediksikan bisa mati akibat virus covid-19 ini.

Pihak berwenang juga telah berupaya berulang-ulang untuk mnjaga kesehatan, sebab hal ini telah khawatir oleh mayoritas warga Afghanistan, seperti yang juga terjadi di negara Islam lainnya, khususnya di bulan Ramadhan sebuah bulan yang amat penting bagi umat Islam.

Bagi rakyat jelata, kondisi ini seperti "hari kiamat," seperti yang dikatakan Qari Shafiq, seorang ulama di sebuah masjid setempat di Kabul, mengatakan kepada Arab News.
"Tahun ini, Ramadhan berbeda bila dibandingkan dengan lainnya di masa lalu. Kita tidak seharusnya berdoa bersama, menyiapkan makanan untuk pertemuan besar fdan justru harus memperhatikan orang-orang miskin.  Ini terasa seperti hari kiamat dalam arti jika kita terus menrus berada lam krisis ini, "juranya.