Biografi Habib Hasan Baharun, Pendiri Pesantren Dalwa -->
Cari Berita

Biografi Habib Hasan Baharun, Pendiri Pesantren Dalwa

Admin Galeri Islam
Jumat, 10 Juli 2020

GaleriKitabKuning | Bangil, Pondok Pesantren Darulughah Waddakwah merupakan pesantren berada di kawasan Pier Pasuruan, atau sekitar 1 Km dari pasar Bangil.

Biografi Habib Hasan Baharun, Pendiri Pesantren Dalwa

Dalwa (Panggilan yang lebih dikenal di masyarakat) didirkan oleh Habib hasan bin Ahmad Baharun, sosok ulama kharismatik yang kini memiliki ribuan pesantren dari seluruh penjuru nusantara.

Siapakah sosok Habib hasan Baharun? berikut ini kami bagikan profil beliau.

Tempat Lahir Habib Hasan Baharun

Dilansir dari Buletin Islam, Habib Hasan bin Ahmad Baharun, adalah seorang Ulama yang lahir di Pulau Kecil Madura, tepatnya di Sumenep pada 11 Juni 1934.

Beliau dikenal sebagai pendiri Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah yang terletak di Desa Raci, Bangil, Pasuruan Jawa Timur.

Habib Hasan bin Ahmad Baharun merupakan putra pertama dari empat bersaudara dari pasangan Habib Ahmad bin Husein bin Thohir bin Umar Baharun dengan Fathmah binti Bakhabazi.

Sejak masih kecil, Beliau sudah ditanamkan kedisiplinan dan kesederhanaan oleh kedua orang tuanya hingga mengantarkan Habib Hasan menjadi sosok yang berakhlaq tinggi dan pribadinya dipenuhi sifat-sifat terpuji.

Sejarah Pendidikan Habib Hasan Baharun

Selain mendapat didikan langsung dari kedua orangtuanya, Habib Hasan juga menempuh pendidikan dasar di Madrasah Makarimal Akhlaq, Sumenep.

Beliau juga berguru pada sang kakek, yaitu Ustadz Ahmad bin Muhammad Bakhabazi.

Habib Hasan juga menimba ilmu dari paman-pamannya sendiri seperti, Ustadz Ustman bin Ahmad Bakhabazi dan Umar bin Ahmad Bakhabazi.

Selepas menamatkan Madrasah, Habib Hasan melanjutkan pendidikan ke PGA di Sumenep, namun hanya sampai kelas 4. Beliau kemudian melanjutkan sekolah menengah (SMEA) di Surabaya.

Habib Hasan Bersama Sayyid Muhammad al-Maliki

Di kota pahlawan itu, Beliau juga berguru pada Habib Umar Ba’agil. Selain belajar ilmu agama, Habib Hasan sejak usia remaja telah menjadi seorang aktivis gerakan keislaman.

Beliau aktif di Persatuan Pelajar Indonesia (PPI) dan Pandu Fatah Al-Islam di Sumenep.

Sepak Terjang Dakwah Habib Hasan Baharun

Setamat dari SMEA, Beliau mengikuti ayahnya berdakwah dan sembari berdagang ke Pulau Masalembu.

Keluarga ustadz Hasan Baharun dikenal sebagai keluarga yang ramah dan suka membantu siapa saja.

Apabila ada orang yang tidak mampu membayar hutangnya, maka disuruh membayar semampunya, bahkan tak jarang dibebaskan dari seluruh hutang-hutangnya.

Tahun 1966, Beliau merantau ke Pontianak dan mulai berdakwah dari satu desa ke desa yang lainnya.

Uniknya, selama berdakwah ia selalu membawa seperangkat pengeras suara agar tidak merepotkan masyarakat dan kebetulan saat itu alat pengeras suara masih sangat langka.

Habib Ali al-Jufri, Habib Umar bin Hafidz dan habib Hasan baharun

Ia juga membawa tabir (kain pemisah) untuk menghindari terjadinya ikhtilat (pencampuran) antara laki-laki dan perempuan dalam setiap pertemuan yang ia selenggarakan.

Selain berdakwah, Habib Hasan aktif di partai Nahdlatul Ulama. Ia dikenal sebagai juru kampanye (jurkam) yang berani dan tegas dalam menyampaikan kebenaran.

Sehingga, ia sempat diperiksa dan ditahan oleh aparat keamanan. Pada saat itu, masyarakat akan melakukan demostrasi besar-besaran apabila tidak dikeluarkan.

Atas jaminan dan bantuan salah satu pamannya, akhirnya Habib Hasan dibebaskan.

Sekitar tahun 1970, atas permintaan dan perintah dari ibunya ia pulang ke Madura.

Namun, ia masih sempat berdakwah ke Pontianak dan mengajar bahasa arab di Pesantren Gondanglegi (Malang).

Selain itu, ia juga mengajar di pondok pesantren Sidogiri (Pasuruan), Salafiyah Asy-Syafi’iyah (Asembagus, Situbondo), Langitan (Tuban) dan lain-lain.

Karya Tulis Habib Hasan Bahrun Tentang Bahasa Arab

Habib Hasan bin Ahmad Baharun dari masa mudanya telah memiliki rasa cinta untuk menyebarluaskan bahasa Arab

Niat beliau tidak lain adalah kecintaan dan menjalankan perintah Nabi Muhammad saw sebagaimana sabdanya, ”Belajarlah kalian bahasa Arab dan ajarkanlah kepada umat manusia.”

Baca Juga : Dalil Muslim, Kitab Wirid dan Doa Susunan Habib Hasan Baharun

Sumbangsih Habib Hasan terhadap dunia Bahasa Arab bisa kita lihat dalam karya–karya tulisnya, antara lain:

  • Kamus Al-‘Ashriyah (Kamus Modern),
  • Kitab Muhawarah I,
  • Kitab Muhawarah II, Al-Af’al Al-Yaumiyyah
  • Al-Asma Ál-Yaumiyyah.
  • Koleksi Doa dan Wirid, Dalil Muslim

Kitab-kitab yang dikarangnya itu merupakan kitab-kitab yang cukup populer di dunia pesantren dan perguruan tinggi Islam.

Sejarah Singkat Pesantren Dalwa

Dari Kecintaan Habib Hasan Baharun terhadap Bahasa Arab akhirnya Habib Hasan bin Ahmad Baharun mendirikan pesantren tepatnya pada tahun 1982.

Awalnya ada 6 orang santri yang belajar di rumah sewa di Kota Bangil, Kabupaten Pasuruan.

Dengan sarana dan prasarana yang sangat sederhana para santri tersebut dibina langsung olehnya dan Habib Ahmad As-Saqqaf.

Foto Lama Habib Hasan Baharun

Perkembangan selanjutnya, pada tahun 1983 membuka atau menerima santri putri yang berjumlah 16 orang yang bertempat di daerah yang sama.

Keadaan (tempat pondok pesantren) terus berpindah-pindah tempat dan sampai 11 kali kontrak rumah hingga tahun 1984.

Dengan jumlah santri yang terus berkembang serta tempat (rumah sewa) tidak dapat menampung jumlah santri, maka pada tahun 1985 Pondok Pesantren Darullughah Wadda’wah pindah ke sebuah desa yang masih jarang penduduknya dan belum ada sarana listrik, tepatnya di Desa Raci, Kecamatan Bangil.

Jumlah santri pada waktu itu sebanyak 186 orang santri yang terdiri dari 142 orang santri putra dan 48 orang santri putri (sekarang sekitar 7500 Santri & santriwati pada tahun 2017).

Setelah Ustad Hasan bin Ahmad Baharun wafat pada 8 Shafar 1420 H atau 23 Mei 1999, pondok ini kemudian disasuh oleh salah satu anaknya, yakni Habib Zain bin Hasan bin Ahmad Baharun yang merupakan murid asuhan Almarhum Buya Habib Muhammad bin ‘Alawi bin ‘Abbas al-Maliki.

Hingga saat ini lahan yang ada telah mencapai kurang lebih 4 Ha dan telah hampir terisi penuh oleh bangunan sarana pendidikan dan asrama santri dengan jumlah santri sekitar 1500 yang berasal dari 30 propinsi di Indonesia, negara-negara Asia Tenggara dan Saudi Arabia.

Santri-santri dibina oleh tidak kurang 100 orang guru dengan lulusan/alumni dalam dan luar negeri. Ditambah dengan pembantu yang diikutkan belajar sebanyak sekitar 95 orang .

Sebelum Habib Hasan Baharun Wafat, beliau juga selalu menasehati santri-santrinya untuk selalu berbicara bahasa arab dengan niat mengikuti (ittiba’) dan meneruskan bahasa yang keluar dari mulut Nabi Muhammad SAW.

Karena bahasa arab adalah bahasa Al-Qur’an yang suci dan bahasa ahli surga. Semangatnya dalam mensyiarkan bahasa Arab tertanam sejak berusia muda.

Ia selalu berpindah-pindah dari pesantren ke pesantren lain, dari madrasah ke madrasah lain.

Beliau selalu memperkenalkan kepada para pelajar cara belajar bahasa arab dengan mudah dan gampang di mengerti serta di pahami terutama bagi para pemula.

Dalam pengajaran nya beliau selalu memperkenalkan yang pertama kali adalah: isim, fiil dan huruf. Beliau selalu berkata,” Bahwa bahasa arab tidak keluar dari tiga unsur diatas, itu semua dilakukan agar orang-orang gemar dan tidak merasa sulit dalam belajar bahasa Arab.”

“Semoga kita bisa mengambil Hikmah dari Profil singkat Habib Hasan Baharun, Amin – Ayo Santri”

Tonton, Video Pemakaman Habib Hasan Baharun


Membaca sejarah para ulama, termasuk Sejarah Habib hasan Baharun ini diharapkan dapat kita jadikan teladan, khususnya di masa yang krisis dengan keteladanan ini. semoga bermanfaat.

Disarikan dari alhabibsegafbaharun.com