Biografi Habib Zain Bin Ibrahim Bin Smith - Madinah
Cari Berita

Biografi Habib Zain Bin Ibrahim Bin Smith - Madinah

Admin Galeri Islam
Selasa, 02 Februari 2021

Galeri Kitab Kuning | Salah seorang ulama yang kini dikenal di Dunia, adalah al-Habib Zein bin Smith, asal Madinah Munawwarah.


Biografi Habib Zain Bin Ibrahim Bin Smith - Madinah

Habib Zein bin Smith dikenal sebagai ulama Ahlussunnah Wal Jama'ah yang ahli fiqih, bahkan ada yang menjuluki beliau sebagai Syafi'i Shoghir (Imam Syafi'i Kecil)

 

Apabila kita membaca kitab "at-Taqrirathus Sadiidah fiil Masaailil Mufiidah" karangan Al-Habib Hasan bin Ahmad bin Muhammad al-Kaff, maka akan ditemukan bahwa kitab tersebut merupakan ringkasan dari permasalahan-permasalahan penting dari ilmu Fikih, buah dari pembelajaran beliau dari berbagai kitab, juga hasil selama berguru di Madinah Munawwarah.


Baca Juga : 100 Lebih Nama-nama Fam dan Gelar Marga Habaib di Seluruh Dunia


Biografi Al Habib Zein bin Smith - Madinah

Beliau adalah al-Habib Zain bin Ibrahim bin Zain, bermarga (fam) Sumaith, tinggal di Madinah al-Munawwaroh. Siapa sangka ulama kesohor di Tanah Haram itu kelahiran Indonesia?


Nama, Kelahiran dan Nasab Habib Zein bin Smith

Beliau adalah al-Allamah al-Muhaqqiq al-Faqih al-'Abid az-Zahid al-Murabbi ad-Da'i ilallah, as-Sayyid al-Habib Abu Muhammad Zain bin Ibrahim bin Zain bin Muhammad bin Zain bin Abdurrahman bin Ahmad bin Abdurrahman bin Ali bin Salim bin Abdullah bin Muhammad Sumaith bin Ali bin Abdurrahman bin Ahmad bin Alwy bin Ahmad bin Abdurrahman bin Alwy ('Ammul al-Faqih al-Muqqadam) bin Muhammad Shahib Mirbath bin Ali Khali Qatsam bin Alwy bin Muhammad bin Alwy Ba'Alawy bin 'Ubaidullah bin Ahmad al-Muhajir bin Isa Ar-Rummi bin Muhammad An-Naqib bin Ali al-'Uraidhi bin Ja'far Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin bin Husein As-Sibthi bin Ali bin Abi Thalib dan Sayidah Fathimah binti Rasulullah SAW.

Baca Juga : Biografi Habib Hasan bin Ahmad Baharun - Raci Bangil Pasuruan

 

Habib Zain lahir di ibukota Jakarta pada tahun 1357 H/1936 M. Ayahnya Habib Ibrahim adalah ulama besar di bumi Betawi kala itu,. Selain keluarga, lingkungan tempat di mana mereka tinggal pun boleh dikatakan sangat religius.
 

 

Sejak kecil Habib Zain sudah mengenal agama dengan baik, baik ilmu pengetahuan maupun amaliah sehari-hari. Mengetahui Habib Zain memiliki kelebihan dibanding saudara- saudara lainnya, ayahnya memberikan pendidikan ekstra. Tak hanya ilmu, akhlak pun ditekankan pada diri Habib Zain.

 

Riwayat Pendidikan dan Guru-gurunya

Mengunjungi para ulama contohnya. Seperti diketahui, mengunjungi (dalam bahasa Jawa: sowan) sudah menjadi tradisi bagi sebagian umat Islam, seperti Jawa dan Arab asal Hadramaut Yaman. Tak sekadar silaturahmi, tapi yang diharapkan adalah berkah doa dari mereka, para ulama.
 

 

Sowan inilah yang dijadikan salah satu mediasi oleh sang ayahanda, Habib Ibrahim, dalam mendidik Habib Zain. Dari rasa cinta dan hormat (mahabbah dan ta’dzim), lalu muncul pada diri Habib Zain rasa ingin menjadi seperti mereka, paling tidak meneladani perilaku mereka.
 

 

Sejak itu, Habib Zain mengais ilmu dari ulama-ulama Betawi. Di waktu beliau masih kecil, ayahnya suka membawanya ke Majelis Habib Alwi bin Muhammad al-Haddad, salah satu pemuka kalangan saddah 'Alawiyyin yang bermukim di Bogor (Beliau dimakamkan di kubah gurunya Al-Habib Abdullah bin Mukhsin al-Aththas, masjid An-Nur, Empang Bogor).
 

 

Beliau menghadiri maulid yang biasa diadakan di rumah Habib Alwy setiap ashar di hari Jum'at. Habib Alwi terhitung guru pertama dalam kehidupan beliau. Selain Habib Alwi, masa kecil Habib Zain banyak dihabiskan untuk menimba ilmu kepada Habib Ali bin Abdurrahman al- Habsyi (Kwitang, dekat Pasar Senen Jakarta Pusat).
 

 

Baca Juga : Biografi Habib Salim bin Abdullah Assyatiri - Hadramaut Yaman

 

Di sini, Habib Zain paling tidak hadir seminggu sekali, mengikuti majlis rutin yang digelar tiap Ahad pagi. Selanjutnya, pada usia empat belas tahun (1950), ayahnya memberangkatkan Habib Zain ke Hadramaut, tepatnya kota Tarim. Di bumi awliya’ itu, Habib Zain tinggal di rumah ayahnya yang telah lama ditinggalkan.
 

 

Menyadari mahalnya waktu untuk disia-siakan, Habib Zain berguru kepada sejumlah ulama setempat, berpindah dari madrasah satu ke madrasah lainnya, hingga pada akhirnya mengkhususkan belajar di Ribath Tarim. Di pesantren ini nampaknya Habib Zain merasa cocok dengan keinginannya.
Di sana ia memperdalam ilmu agama, antara lain mengaji kitab ringkasan (mukhtashar) dalam bidang fikih kepada al-'Allamah al-Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz, ayahnya al-Habib Umar bin Hafizh Darul Musthafa-Tarim. Di bawah asuhan al-Habib Muhammad pula, Habib Zain berhasil menghafal kitab fikih buah karya Imam Ibn Ruslan, “Zubad”, dan “Al-Irsyad” karya Asy-Syarraf Ibn Al-Muqri yang beliau hafal sampai bab Jinayat.
 

Tak cukup di situ, Habib Zain belajar kitab “Al-Minhaj” yang disusun oleh Habib Muhammad sendiri, menghafal bait-bait (nazham) “Hadiyyah As-Shadiq” karya Habib Abdullah bin Husain bin Thahir dan lainnya.
 

Dalam penyampaiannya di Tarim, beliau sempat berguru kepada sejumlah ulama besar seperti Habib Umar bin Alwi Al-Kaf, kepadanya beliau membaca kitab "Mutammimah al-Ajurumiyah", menghafal kitab "Alfiyyah" karya Ibnu Malik, dan mulai mempelajari syarah kitab itu padanya.
 

 

Beliau menimba ilmu Fiqih dari al-Allamah asy-Syaikh Mahfuzh bin Salim az-Zubaidi dan dari seorang syaikh yang Faqih Syekh Salim Sa’id Bukhayyir Baghitsan.
 

 

Beliau juga membaca kitab "Mulhah al-I'rab" karya al-Hariri dengan Habib Salim bin Alwi Al-Khird. Dalam ilmu ushul, beliau mengambil dari Syekh Fadhl bin Muhammad Bafadhl dan al-Habib Abdurrahman bin Hamid As-Sirri, kepada mereka berdua, beliau juga membaca kitab matan "al-Waraqat".
 

Beliau juga menghadiri majelis-majelis al-Habib Alwi bin Abdullah Shihabuddin dan rauhah-nya, juga pelajaran-pelajaran di Ribath, dan majelis Syaikh Ali bin Abu Bakar as-Sakran.
 

 

Baca Juga : Biografi Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim - Hadramaut Yaman

 

Beliau juga menimba ilmu dari Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aydrus, dan sering pulang pergi ke tempatnya. Beliau mendapatkan banyak ijazah darinya. Beliau juga menimba ilmu dari Habib Ibrahim bin Umar bin Agil dan Habib Abubakar Attos bin Abdullah Al-Habsyi. Kepadanya beliau membaca kitab al-Arba'in karya Imam al-Ghazali. Guru-gurunya memuji karena kelebihannya dibanding lainnya, juga karena adab, perilaku, dan akhlaknya yang baik.
 

 

Selain menimba ilmu di sana, Habib Zain banyak mendatangi majelis para ulama, semisal Habib Muhammad bin Hadi As-Saqqaf, Habib Ahmad bin Musa Al-Habsyi, al-Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki, Habib Umar bin Ahmad bin Sumaith, Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad, Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assaqof, al-Habib al-Murabbi Hasan bin Abdullah asy-Syatiri dan Habib Muhammad bin Ahmad asy-Syatiri. Melihat begitu banyaknya ulama yang didatangi.

 

Dapat disimpulkan, betapa besar semangat Habib Zain dalam rangka merengkuh ilmu pengetahuan agama, apalagi melihat lama waktu beliau tinggal di sana, yaitu kurang lebih delapan tahun.
 

Guru-guru al-habib Zain bin Ibrahim bin Smith diantaranya adalah :

  • Habib Alwy bin Muhammad bin Thohir al-Hadad
  • Habib Muhammad bin Salim bin Hafizh, Ayahanda Habib 'Umar bin Hafidz.
  • Habib Umar bin Alwi al-Kaf,
  • Al-Allamah Al-Sheikh Mahfuz bin Salim,
  • Sheikh Salim Said Bukayyir Bagistan,
  • Habib Salim bin Alwi Al-Khird,
  • Habib Ja’far bin Ahmad Al-Aydrus,
  • Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar (mertuanya).
  • Habib Ibrahim bin Umar bin Aqil
  • Habib Abu Bakar bin Abdullah al-Aththas
  • Syekh Fadhl bin Muhammad Bafadhl
  • Habib Muhammad bin Hadi Assaqof,
  • Habib Ahmad bin Musa Al-Habsyi, Habib Alwi bin Abbas Al-Maliki,
  • Habib Umar bin Ahmad bin Smith,
  • Habib Ahmad Masyhur bin Thaha Al-Haddad,
  • Habib Abdul Qadir bin Ahmad Assaqof, dan
  • Habib Muhammad bin Ahmad Assyatiri.

 

Perjalanan Hijrah ke Baidha'

Kemudian salah seorang gurunya bernama Habib Muhammad bin Salim bin Hafidz menyarankannya pindah ke kota Baidha', salah satu wilayah pelosok bagian negeri Yaman sebelah Utara, untuk mengajar di rubath Baidha' sekaligus berdakwah. Ini dilakukan menyusul permohonan mufti Baidhah, Habib Muhammad bin Abdullah Al-Haddar.
 

Dalam perjalanan ke sana, Habib Zain singgah dulu di kediaman seorang teman dekatnya di wilayah Aden, Habib Salim bin Abdullah Assyatiri, yang saat itu menjadi khatib dan imam di daerah Khaur Maksar,  disana Habib Zain tinggal beberapa saat.
 

 Baca Juga : Biografi Habib Ali Zaenal Abidin al-Hamid - Malaysia

 

Selanjutnya Habib Zain melanjutkan perjalanannya di Baidha'. Habib Zain mendapat sambutan hangat dari sang tuan rumah, Habib Muhammad Al-Haddar, di sanalah untuk pertama kali ia mengamalkan ilmunya lewat mengajar.
 

 

Habib Zain menetap lebih dari 20 tahun di Rubath Baidha’, menjadi khadam ilmu kepada para penuntutnya. Beliau juga menjadi Mufti dalam Mazhab Syafi’i. Beliau merupakan tangan kanan Habib Muhammad al-Haddar. 

 

Selama di rubath Baidha, beliau benar-benar berjuang, beribadah dan menempa diri dengan kesungguhan dan keseriusan dalam muthala'ah (mengkaji) kitab-kitab tafsir, hadist, fiqih, dan lain-lain, juga membaca kitab-kitab salaf. Beliau memiliki semangat yang tak kenal lelah dan jemu dalam mengajar, mendidik murid-murid, dan membimbing mereka yang kurang pandai. 

 

Beliau memilki kedudukan tersendiri di sisi gurunya al-Habib Muhammad al-Haddar. Sehingga bila suatu persoalan ilmiah diajukan kepada Habib Muhammad dan sudah dijawab oleh Habib Zain, maka Habib Muhammad mengatakan, "Jika Habib Zain telah menjawab maka tidak perlu lagi ada komentar". Begitulah penilaian gurunya karena sangat percaya dengan keilmuan al-Habib Zain bin Sumaith.
al-Habib Muhammad al-Haddar (mertunya), al-Habib Hasan bin Abdullah asy-Syatiri (kakak al-Habib Salim bin Abdullah asy-Syatiri) dan al-Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith (dari kiri-kanan)
Hijrah ke Madinah
 

Setelah bertahun-tahun di Baidha', beliau kemudian hijrah ke negeri Hijaz. Beliau diminta untuk membuka rubath Sayyid Abdurrahman bin Hasan al-Jufri di Madinah. Beliau berangkat pada bulan Ramadhan tahun 1406 H/1996 M. Habib Zain bersama-sama dengan Habib Salim asy-Syatiri menjadi Pengasuh Rubath di Madinah selama 12 tahun. Setelah itu Habib Salim pindah ke Tarim Hadhramaut untuk menjadi Pengasuh Rubath Tarim.
 

Habib Zain di Madinah diterima dengan ramah, muridnya banyak, terus bertambah. Dalam kesibukan mengajar dan usianya yang juga semakin meningkat, keinginan untuk terus menuntut ilmu tidak pernah pudar.
 

Beliau mendalami ilmu Usul dari Sheikh Zaidan Asy-Syanqiti Al-Maliki, seorang yang sangat alim dan ahli ushul fiqih. Kepadanya beliau membaca kitab at-Tiryaq an-Nafi' 'ala Masail Jami'ul Jawami karya Imam Abu Bakar bin Syahab, Maraqi as-Su'ud karya Syarif Abdullah al-Alawi asy-Syanqithi yang merupakan kitab matan lanjutan dalam ilmu ushul fiqih.
 

Habib Zain terus menyibukkan diri menuntut ilmu dengan Al-Allamah Ahmaddu bin Muhammad Hamid Al-Hasani asy-Syanqithi dalam ilmu bahasa dan Ushuluddin

 

Kepadanya beliau membaca Syarh al-Qath, sebagian Syarh Alfiyyah karya Ibnu 'Aqil, Idha'ah ad-Dujunnah karya Imam al-Maqqari dalam akidah, as-Sullam al-Munauraq karya al-Imam al-Akhdari, Isaghuji karya al-Imam al-Abhari, Itmam ad-Dirayah li Qurra an-nuqayah karya Imam Suyuthi, al-Maqshur wa al-Mamdud dan Lamiyah al-Af'al, keduanya karya Ibnu Malik, jilid pertama kitab Mughni al-Labib karya Ibnu Hisyam, dua kitab ilmu shorof, Jauhar al-Maknun dalam ilmu balaghoh.
 

 

 Baca Juga : Biografi Habib Jindan Bin Novel bin Jindan - Jakarta

 

Syaikh Ahmaddu memuji Habib Zain karena semangat besar dan kesungguhannya dalam menuntu ilmu. Dan kebanyakan membaca kepadanya di Masjid Nabawi yang mulia.
 

Selama masa ini Habib Zain sering melakukan perjalanan-perjalanan yang diberkahi ke sejumlah negeri Islam untuk berdakwah serta menjumpai para ulama dan para wali. Beliau mengunjungi Syam, Indonesia, Malaysia, Afrika dan lain-lain.
 

Allah SWT memberi anugerah kepadanya, yaitu mudah diterima orang dan kewibawaan dalam penampilannya.
 

Habib Zain seorang yang tinggi kurus. Lidahnya basah, tidak henti berzikrullah. Tasbih hampir tidak pernah berpisah dengan tangannya. Selalu mengenakan sorban putih, dan mengenakan sarung dan pakaian sebagaimana kebiasaan para salaf di Hadramaut.
 

Al-Habib Zain memilki pengaturan khusus dalam wirid, zikir pengaturan khusus dalam wirid, zikir dan ibadahnya. Beliau sentiasa menghidupkan malamnya.

Di waktu pagi Habib Zain keluar bersolat Subuh di Masjid Nabawi. Beliau beriktikaf di Masjid Nabawi hingga matahari terbit. Setelah itu beliau menuju ke Rubath untuk mengajar. Majelis rauhah digelar setelah asar hingga waktu maghrib tiba. Lalu beliau melanjutkan mengajar hingga menjelang Isya. Setelah itu, pergi ke masjid nabawi untuk melakukan shalat Isya dan berziarah ke makam datuknya yang mulia dan agung, Rasulullah SAW.


Karya-karya Habib Zein bin Smith

  • al-Manhaj as-Sawiy, Syarh Ushul Thariqah as-Sadah al-Ba'Alawi. Kitab terpenting di antara beliau, menjelaskan mengenai thariqah Alawiyyah.
  • Al-Fuyudhat ar-Rabbaniyyah Min Anfas as-Sadah al-'Alawiyyah. Kitab Tafsir maknawi yang tipis dan menghimpun ucapan Sadah al-Alawiyyin dalam kumpulan ayat al-Qur'an dan Hadist Nabi.
  • Hidayah ath-Thalibin Fi Bayan Muhimmat ad-Din. kitab Syarh hadist perbincangan antara Jibril.as dan Rasulullah SAW.
  • Al-Ajwibah al-Ghaliyah Fi 'Aqidah al-Firqah an-Najiyah. Menjelaskan mengenai keyakinan orang-orang yang menyimpang dalam bentuk tanya jawab.
  • al-Futuhat 'Aliyyah Fi al-Khutbah al-Mimbariyyah. Merangkum ceramah-ceramah beliau.
  • Haadayah az-Zairin ila Ad'iyah az-Ziyarah an-Nabawiyyah wa Masyahid as-Shalihin. Kumpulan doa para salaf yang diucapkan ketika ziarah Nabi dan kuburan-kuburan di Haramain dan Hadhramaut.
  • Majmu, kitab manfaat yang bertebaran dalam hukum, doa, dan adab.
  • Fatawa al-Fiqhiyah. Mengenai fatwa-fatwa fiqih.
  • Tsabat Asanidah wa Syuyukhah. Bentuk naskah berisi sanad dan para gurunya.

 

Demikianlah ulasan tentang  Biografi Habib Zein Bin Ibrahim Bin Smith - Madinah, semoga kita senantiasa mendapatkan barokahnya amin.

 

Sumber Rujukan :

Kitab Hidayah ath-Thalibin Fi Bayan Muhimmat ad-Din, kitab Syarh hadist perbincangan antara Jibril.as dan Rasulullah SAW, li Habib Zain bin Ibrahim bin Sumaith.
Biografi Al Habib Zein Bin Smith - Madinah - Dalwa Dakwah. 

Oleh: Muhammad Ihsan Ramadlan, Penulis Mahasiswa tingkat II Kulliyatus Syarii'ah wal Qonun, Tahassus Syari'ah fi Jaami'atil Ahgaff bi- Tarim-Hadramaut.