Lompat ke konten Lompat ke sidebar Lompat ke footer

Sejarah Nasab dan Marga Bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Galeri Kitab Kuning | Tulisan ini memuat asal usul marga, Fam dan Gelar keluarga Habaib dari jalur Nasab Syekh Abu Bakar bin Salim (BSA).

Sejarah Nasab dan Marga Bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Dzurriyah atau keturunan Rasulullah saw. dari jalur Sahabat Ali bin Abi Talib dengan Sayyidah Fatimah ra. memang banyak, terutama di dataran Negara Yaman.

Di Indonesia sendiri, Sadah Ba'alawi atau Alawiyyin juga tersebar di berbagai penjuru negeri, mulai dari sabang hingga Marauke.

Baca Juga : Profil dan Biografi Habib Umar bin Hafidz bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Salah satu Fam keluarga  atau marga, serta nasab yang cukup terkenal adalah Syeh Abi Bakar bin Salim, atau biasa disingkat dengan BSA. Simak sejarah dan asal usulnya berikut ini.

Asal Usul Gelar Bin Syekh Abu Bakar 

Sisi Nasab

As-Syekh Al Kabir Al-Qutb As-Syahir Abu Bakar, 

bin Salim, 

bin Abdullah, 

bin Abdurrahman,

bin Abdullah, 

bin Sayyidina Syekh Al-Imam Al-Qutb Abdurrahman As-segaf

bin Syekh Muhammad Maula Ad-Dawilayh

bin Syekh Ali Shohibud Dark

bin Sayyidina Al-Imam Alwi Al-Ghuyur

bin Sayyidina Al-Imam Al-Faqih Al-Muqaddam muhammad

bin Sayyidina Ali

bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib Marbat

bin Sayyidina Al-Imam Kholi Qosam

bin Sayyidina Alwi

bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Shohib As-Shouma’ah

bin Sayyidina Al-Imam Alwi Shohib Saml

bin Sayyidina Al-Imam Ubaidillah Shohibul Aradh

bin Sayyidina Al-Imam Muhajir Ahmad

bin Sayyidina Al-Imam Isa Ar-Rumi

bin Sayyidina Al- Imam Muhammad An-Naqib

bin Sayyidina Al-Imam Ali Al-Uraydhi

bin Sayyidina Al-Imam Ja’far As-Shodiq

bin Sayyidina Al-Imam Muhammad Al-Baqir

bin Sayyidina Al-Imam Ali Zainal Abidin

bin Sayyidina Al-Imam As-Syahid Syababul Jannah Sayyidina Al-Husein.

Baca Juga : Makna Gelar Fam Marga dan Nasab Dzurriyah Keluarga Nabi

Asal Usul Bin Syekh Abu Bakar bin Salim

Syeikh Abu bakar bin Salim ra dilahirkan pada tanggal 13 Jumadil Akhir 919 H ( 1498 M ) di kota Tarim Al Ghanna, Yaman.

Nama ibundanya adalah Syarifah Thalhah binti Aqil bin Ahmad bin Abu Bakar As-Sakron bin Abdurrahman Assegaf.

Baca Juga : Daftar 100+ Nama-Nama Fam Para Habaib Di Seluruh Dunia.

Beliau tumbuh dewasa sebagai seorang tokoh sufi yang masyhur, sekaligus seorang yang ‘Alim dan mengamalkan ilmunya.

Demi kepentingan pendidikan dan pengembangan dakwah, beliau hijrah ke kota ‘Inat yang letaknya tidak berjauhan dengan Tarim.

Beliau mendirikan masjid dan membeli tanah yang luas untuk perkuburan. Beliau hidupkan kota ‘INAT dengan ilmu, yakni dengan mengajar, mendidik dan membimbing.

Manusia datang dari berbagai pelosok daerah guna menuntut ilmu dari beliau, sehingga ‘Inat menjadi kota yang padat penduduknya.

Baca Juga : Sejarah Nasab dan Marga Fam al-Hamid - Keluarga Habib Ahlul Bait Keturunan Rasulullah saw

Murid-murid beliau datang dari berbagai kota di Yaman, dan juga dari mancanegara, misalnya :Syam, India dan berbagai Negara lainnya.

Beliau adalah seorang dermawan yang suka menjamu tamu. Bahkan beliau mengeluarkan sedekah sebagaimana orang tidak takut jatuh miskin.

Jika tamu yang berkunjung banyak, beliau memotong satu atau dua ekor unta untuk jamuannya.

Karena sambutan yang hangat ini, maka semakin banyak orang datang mengunjungi beliau.

Dalam menjamu dan memenuhi kebutuhan tamunya, beliau tidak segan-segan untuk turun tangan sendiri.

Baca Juga : Sejarah Nasab dan Marga Habaib al-Jufri-Ahlul Bait Keturunan Nabi Muhammad saw

Setiap hari beliau membagikan seribu potong roti kepada fakir miskin.

Beliau dikenal sebagai seorang yang sangat tawadhu, tidak ada seorangpun yang pernah melihat beliau duduk bersandar ataupun bersila.

Syeikh Abdurrahman bin Ahmad Bawazir, seorang yang faqih, mengatakan :

“Sejak 15 tahun sebelum wafatnya, didalam berbagai majlisnya, baik bersama kaum khusus ataupun awam, Syeikh Abu bakar bin Salim tidak pernah terlihat duduk, kecuali dalam posisi duduknya orang yang sedang tasyahud akhir.”

Karena budi pekerti yang luhur ini, masyarakat sangat mencintai beliau. Nama beliau menjadi tersohor ke seluruh penjuru dunia.

Baca Juga : Mengenal Asal usul Sejarah Marga Nasab Assegaf

Selain para muridnya, banyak sekali orang-orang yang datang untuk menimba ilmu dari beliau. Mereka datang terhormat dan pulang pun dengan terhormat.

Masa Pendidikan

Sejak kecil beliau telah hafal qur’an. Beliau menuntut ilmu dari :

• Sayid ‘Umar Ba Syaiban

• Al faqih ‘Abdullah bin Muhammad Ba Makhramah

• Syeikh Ma’ruf bin Abdullah Ba Jamal As Syibami Ad Du’ani.

Beliau mempelajari Risalatul Qusyairiyah yang sangat terkenal dalam dunia tasawuf dibawah bimbingan Syeikh ‘Umar bin Abdullah Ba Makhramah.

Beliau gemar menekuni ilmu pengetahuan, sampai-sampai beliau menghatamkan Ihya Ulumudinnya Hujjatul Islam Al Ghazali sebanyak 40 kali dan menghatamkan kitab Syafi’iyah, Al Minhaj karya Imam Nawawi sebanyak 3 kali. Diantara kebiasaan wejangan kepada masyarakat setelah shalat jum’at.

Masa Riyadhah dan Karomahnya

Beliau banyak melakukan ibadah dan riyadhah. Pernah selama waktu yang lama, beliau berpuasa dan hanya berbuka dengan kurma yang masih hijau.

Baca Juga : Mengenal Sejarah Asal Usul Marga Habib al-Bin Yahya

Selama 90 hari beliau berpuasa dan shalat malam di lembah Yabhur. Dan selama 40 tahun beliau shalat subuh di masjid Ba ‘Isa, di kota Lisk, dengan wudlu Isya.

Setiap malam beliau berziarah ke tanah pekuburan Tarim dan berkeliling untuk melakukan shalat diberbagai mesjid di Tarim, dan beliau mengakhiri perjalanannya dengan shalat subuh berjamaah di masjid Ba ‘Isa.

Sampai akhir hayatnya beliau tidak pernah meninggalkan shalat witir dan dhuha. Semasa hidupnya beliau berziarah ke makam nabiyullah Hud sebanyak 40 kali.

Setiap malam, selama 40 tahun, beliau berjalan dari Lisk menuju Tarim, melakukan shalat pada setiap masjid di Tarim, mengusung air untuk mengisi tempat wudhu, tempat minum bagi para peziarah, dan kolam tempat minum hewan.

Baca Juga : Mengenal Asal Usul Sejarah Marga Nasab Bin Shihab / Bin Shahab

Pada malam minggu, 27 bulan Dzulhijah 992 H ( 1571 M ), beliau wafat di kota ‘Inat.

Putra Putri Syekh Abu Bakar bin Salim ra.

Anak-anak Syekh Abu Bakar bin Salim Ra berjumlah 17 orang; 4 perempuan dan 13 laki-laki. Sayyid Al-Imam Al-Habib Ali bin Abdurrahman Al-Masyhur meriwayatkan perkataan dari Al-Imam Al-habib Idrus bin Umar Al-Habsy Ra:

“Sesungguhnya anak ( laki-laki ) Syekh Abu Bakar bin Salim Ra berjumlah 13 orang; yang semuanya adalah Wali Allah yang bermaqom Qutb”

Anak perempuan Syekh Abu Bakar bin Salim :

1. Syarifah Fatimah.

2. Syarifah Aisyah

3. Syarifah Ulwiyah

4. Syarifah Tolhah

Anak laki-laki Syekh Abu Bakar bin Salim Ra :

1. Sayyid Abdurrahman

2. Sayyid Ja’far

3. Sayyid Abdullah Al-Akbar

4. Sayyid Salim

5. Sayyid Al-Husein. ( Kholifah Ayahandanya )

6. Sayyid Al-Hamid

7. sayyid Umar Al-Mahdhor

8. Sayyid Hasan

9. Sayyid Ahmad

10. Sayyid Sholeh.

11. Sayyid Ali

12. Sayyid Syekhan.

13. Sayyid Abdukllah Al-Asghar.

Baca Juga : Mengenal Sejarah Asal Usul Habaib Marga Al-Aidrus / al-Idrus

Murid-murid Utama Syekh Abu Bakar bin Salim Ra.

1. Sayyid Ahmad bin Muhammad Al-Habsy; Shohib Syi’ib Al-Husaisah.

2. Sayyid Abdurrahman bin Muhammad Al-Jufri; Shohib Taris, wafat 1037 H.

3. Sayyid Muhammad bin Alwi; Shohib Al-Muqoy rowiyat.

4. Sayyid Abdurrahman bin Ahmad Al-Biyd, Shohib As-Syi’ir.

5. Sayyid Yusuf Al-Qodhiy bin Al-Hasany Al-Farisy; Shohib Maryamah; lahir di Maroko, di kota Al-Fasi tahun965 H, wafat di daerah Maryamah 1008 H.

6. Sayyid Al-Hasyb Umar bin ‘Isa Barakwah As-Samarqandy, Shohib Talqin, wafat di Ghurfah.

7. Syekh Hasan Basya’ib, Shohib Al-Wasitoh.

8. Syekh Ahmad bin Sahl, Shohib Hiytar.

9. Al-faqih Muhammad bin Abdurrahman bin Sirojuddin Jamal, Shohib Al-Ghurfah.

Karya-karyanya

1. Miftahus saraair wa kanjuz zakhooir

2. Mi’rajul Arwah Ilal Minhajul Widhoh

3. Fathul Babil Mawahib Wa Bughyah Mathlabul Tholib

4. Mi’rajut Tauhid.

Baca Juga : Mengenal Asal Usul Marga dan Gelar Nasab al-Habsyi

Kata mutiara dan nasihatnya

• Barangsiapa diam, ia akan selamat dan barangsiapa berbicara ia akan menyesal.

• Orang yang bahagia adalah orang yang disenangkan oleh Allah tanpa alas an tertentu dan orang yang sengsara adalah orang yang disengsarakan Allah tanpa sebab tertentu. Demikianlah menurut ilmu hakikat. Sedangkan menurut ilmu syariat; orang yang bahagia adalah orang yang oleh Allah diberi kesenangan dengan melakukan berbagai amal saleh, dan orang yang disengsarakan oleh Allah dengan meninggalkan amal-amal saleh dan melanggar syariat agama.

• Orang yang sengsara adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya Barangsiapa mengenal dirinya, ia tidak akan melihat selain Allah swt. Barangsiapa tidak mengenal dirinya, ia tidak akan melihat Allah swt.

• Setiap wadah memercikan apa yang ditampungnya.

• Barangsiapa tidak bermujahadah pada masa bidayahnya, ia tidak akan mencapai puncak. Dan barangsiapa tidak bermujahadah, ia tidak akan bermusyahadah; {“Dan orang-orang yang bersungguh-sungguh (bermujahadah) di jalan kami, niscaya akan kami tunjukan kepada mereka jalan-jalan kami. : Al-Ankabut,29 : 69”}

• Barangsiapa tidak memelihara waktunya, ia tidak akan selamat dari bencana.

• Barangsiapa bergaul dengan orang baik, ia akan memperoleh berbagai pengetahuan dan asrar, dan barangsiapa bergaul dengan orang-orang jahat, ia akan memperoleh aib dan siksa neraka.

• Berbagai hakikat tidak akan diperoleh kecuali dengan meninggalkan berbagai penghalang.

• Dalam Qanaah terdapat ketenteraman dan keselamatan; dalam tamak terdapat kehinaan dan penyesalan.

Baca Juga : Mengenal Sejarah Munculnya Marga al-Haddad

• Orang yang arif melihat aib-aib dirinya; sedang orang yang lalai melihat aib-aib orang lain.

• Dan orangyang bahagia adalah orang yang melawan hawa nafsunya, berpaling dari alam untuk menghadap kepada penciptanya, dan melewatkan waktu pagi dan sore dengan meneladani sunah nabinya.

• Hendaklah kamu bertawadhu dan tidak menonjolkan diri. Jauhilah sikap takabur dan cinta kedudukan.

• Kesuksesanmu adalah ketika kamu membenci nafsumu dan kehancuranmu adalah saat kamu meridhainya. Karena itu, bencilah nafsumu dan jangan meridhainya, niscaya kamu akan berhasil meraih segala cita-citamu, Insya Allah.

• Orang yang arif adalah yang mengenal dirinya, sedangkan orang jahil adalah yang tidak mengenal dirinya.

• Alangkah mudah bagi seorang Arifbillah untuk membimbing orang jahil, kadangkala kebahagiaan abadi dapat diraih hanya lewat sekilas pandangannya.

• Ridhalah atas maqam apapun yang Allah berikan kepadamu. Seorang Sufi berkata, “selama lebih 40 tahun aku tidak pernah merasa benci pada maqam yang Allah berikan kepadaku.”

• Berprasangka baiklah kepada sesama hamba Allah, sebab buruk sangka timbul karena tiadanya taufiq. Ridhalah selalu pada qodho, bersikap sabarlah, walaupun musibah yang kamu alami teramat besar. Firman Allah : Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang akan dibalas dengan pahala tanpa batas. ( Az Zumar, 39 :10 )

Baca Juga : Asal Usul dan Sejarah 75 Marga dan Fam Habib di Seluruh Dunia

• Dan tinggalkanlah hal-hal yang tidak ada manfaatnya bagimu, dan benahilah dirimu lebih dahulu.

• Dunia adalah anak perempuan Akhirat, barangsiapa telah menikahi seorang perempuan, haram memperistri ibunya.

• Berbagai hakikat terhijab dari hati, karena perhatian kepada selain Allah.

• Waktumu yang paling bermanfaat adalah disaat kamu fana’ dan waktumu yang paling sia-sia adalah disaat kamu menyadari dirimu.

• Ketahuilah oleh kalian sesungguhnya Allah swt bertajalli ( mengagungkan dirinya ) di hati para kekasihnya; para kaum Arifin, karena mereka menghapus selainnya di hati mereka dan mereka menghilangkan selain Allah swt dalam pandangan mereka terhadap semesta dan pada setiap kejadiannya bahwa semuanya adalah semata-mata ciptaan Allah swt, dan mereka melalui siang, pagi serta sore hari selalu dalam keadaan taat kepadanya; mereka selalu beribadat serta berharap dan takut kepadanya; serta selalu ruku’ dan bersujud kepadanya, mereka selalu dalam keadaan bahagia dan gembira serta ridho dengan segala ketentuan Qadha dan Qadar yang telah ditentukan Allah swt atas mereka; berkata Nabi Ayyub as :”Bila mana aku hendak memilih di antara dua perkara, maka aku akan memilih perkara yang ada Ridho Allah swt didalamnya karena hanya hal itulah yang mendatangkan kemaslahatan bagiku” Berkata kaum ‘Arifin : “Kalau sekiranya kedua mataku melihat selain Allah, maka akan ku butakan, kalau sekiranya ke dua telingaku mendengar selain Allah, maka akan ku tulikan, dan bilamana lidahku berkata yang tidak diperintahkan Allah, maka akan ku potong”

• Sedikit amal dari hati menyamai amal seluruh manusia dan jin.

• Sesungguhnya Bala’ yang menimpamu pada saat lupamu, bila engkau menyadarinya adalah merupakan jalanmu untuk kembali mengenal Allah swt dan kembali mendekatkan dirimu kepadanya pada saat engkau meminta bala tersebut dihilangkannya, dan bala’ sesungguhnya adalah bilamana engkau melupakan Allah swt dan engkau lupa bahwa dirimu selalu faqir kepadanya.

• Beristiqamahlah kalian dalam setiap amal, karena para Ahli kasyaf sekalipun semua bermohon kepada Allah swt agar mereka diberikan kekuatan dalam beristiqamah agar mereka tidak jatuh dalam keadaan terhijab darinya.

• Ketahuilah oleh kalian; Ma’rifat kepada Allah swt adalah dengan kejelasan dan bukan dengan tersamar, dan bilamana seorang hamba diberinya ma’rifat kepadanya, maka ia pasti akan melihat semua amal yang dicintai oleh Rasulullah saw.

• Sesungguhnya derajat yang tertinggi dalam maqom sabar adalah menahan diri dari pada mengadu kepada selain Allah swt.

• Derajat paling tinggi disisi para Auliya Allah swt yang utama, adalah Tawadhu dan Khumul ( menutupi keistimewaan diri ).

2 komentar untuk "Sejarah Nasab dan Marga Bin Syekh Abu Bakar bin Salim"

Anda Mendapatkan Manfaat Dari Informasi Galeri Kitab Kuning? Tulis Komentar dengan Sopan, dan Tanpa memberi Link Aktif atau Non Aktif
Jangan Pakai Bahasa Yang Negative
Mohon maaf jika balasan kami telat, dan sesegera mungkin akan kami tanggapi.

Hormat Kami
Admin Galeri Kitab Kuning

close
Banner iklan disini